Karya Anak Bangsa Domba Waringin Pedaging Unggul Dari Sumatera Utara

Medanternak – Kita harus berbangga atas karya besar anak bangsa yaitu salah seorang pakar peternakan di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Bapak Ir. Tirta Waringin Sitompul. Kerja keras beliau selama sembilan tahun untuk menciptakan domba unggul dengan mengawin-silangkan domba luar negeri dengan domba lokal membuahkan hasil berupa domba pedaging unggul yang diberi nama sesuai namanya, yaitu domba Waringin.

Gambar Domba Waringin

Domba Waringin Bibit Unggul Pedaging

Penemuan domba Waringin ini mengejutkan ilmuwan dari Norwegia, Malaysia, dan Australia. Tak pelak mereka pun datang untuk membuktikan keunggulan Waringin. Menurut mereka, domba ini bukan sekedar perbaikan genetis, tetapi sudah dihasilkan bangsa baru. Menurutnya, untuk membuat bangsa baru perlu paling cepat 35 tahun, sementara Tista Waringin menemukan domba ini hanya dalam 13 tahun.

Keunggulan Domba Waringin

Nama domba Waringin tidaklah setenar nama domba Garut dari Jawa Barat, namun jenis domba yang berasal dari Desa Stabat, Langkat, Sumatera Utara (Sumut) ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena keunggulannya sebagai penghasil daging melebihi domba lain yang ada di Indonesia saat ini.

Domba Waringin berasal dari persilangan (crossing) domba lokal dengan domba introduksi yang menghasilkan domba Waringin jantan berbobot 180 kg, padahal domba lokal setempat hanya berbobot 25-40 kg saja.

Jenis domba ini banyak diminati peternak domba, karena menurut Tista Waringin, orang yang melakukan persilangan domba Waringin, presentase karkasnya mencapai 55%, padahal umumnya domba jenis lain hanya mencapai 48,18%, dengan syarat dipelihara secara intensif.

Sebagai domba hasil perkawinan silang antara domba luar negeri dengan domba lokal, domba Waringin sangat cocok untuk dibudidayakan di seluruh wilayah Indonesia yang beriklim tropis. Selain tahan terhadap penyakit, domba ini juga tidak pilih-pilih makanan. Semua jenis rumput dan konsentrat disukai domba asal kabupaten Langkat ini.

Keunggulan lainnya ialah kandungan lemak domba Waringin lebih rendah hanya 2-3% dan serat dagingnya lebih halus, dengan syarat jangan terlalu banyak memberi pakan berupa ampas tahu agar lemak tidak tinggi.

Apabila dibandingkan dengan domba Kampung, domba Waringin ini jauh lebih besar. Bobot hidup domba Kampung paling hanya 25 kg untuk betina dan 40 kg pada yang jantan. Sebaliknya, bobot hidup domba Waringin betina dan jantan bisa mencapai 80 hingga 135 kg.

Selain itu, domba Waringin betina bisa melahirkan anak 2-4 ekor dalam sekali kelahiran. Dengan demikian, domba Waringin ini tergolong domba yang sangat prolifik. Usaha Ir. Tista Waringin Sitompul untuk menghasilkan domba unggul dimulai pada tahun 1990.

Asal Mula

Domba Waringin sesungguhnya memiliki garis keturunan domba Barbados blackbelly (asal Karabia), domba St. Croix (asal Kepulauan Virgin, AS) dan domba Suffolk (asal Inggris). Namun

Pada mulanya, beliau mengawin-silangkan domba Suffolk jantan dari Inggris yang memiliki keunggulan bobot badan jantan bisa mencapai 200 kg dan induk betina 150 kg (di Indonesia hanya mencapai bobot 60-80 kg) dengan domba ekor tipis, Dimana domba lokal ini memiliki keunggulan tahan penyakit cacing dan cepat berkembang biak, hanya saja bobot badannya relatif kecil.

Domba hasil perkawinan silang (F1S) ini terus dikembangkan dan diseleksi melalui penelitian selama bertahun-tahun untuk memperoleh domba yang paling baik dan tahan terhadap penyakit.

Kemudian, beliau mengawin-silangkan domba Barbados Perut Hitam asal Karibia, Amerika yang memiliki keunggulan sangat toleran terhadap panas dan berstamina tinggi, namun tubuh relative kecil dan pertumbuhan agak lambat dengan domba Kampung sehingga dihasilkan domba F1B.

Selanjutnya, domba St.Croix jantan yang tahan terhadap internal parasit (cacing), berkadar lemak rendah dan bobot badan jantan mencapai 90 kg dan betina 68 kg, juga dikawin-silangkan dengan domba Kampung betina sehingga diperoleh keturunan F1C.

Domba hasil perkawinan silang F1B dan F1C ini juga dikembangkan dan diseleksi untuk memperoleh domba keturunan terbaik. Selanjutnya, domba terbaik F1B dikawin-silangkan dengan domba terbaik F1C. Hasil perkawinan silang antara F1B dan F1C ini kemudian dikawin-silangkan dengan domba F1S. Hasil perkawinan silang inilah yang menghasilkan domba pedaging unggul, yaitu domba Waringin.

Sistem persilangan yang telah dilakukan untuk menghasilkan Domba Waringin sebagai berikut:

Galur Domba Waringin

Karakteristik

Untuk pengembang-biakan domba Waringin selanjutnya, perlu mengetahui karakteristik produksi dan reproduksi dari domba tersebut.

Karakteristik Domba Waringin

Pemberian Pakan

Kuantitas dan kualitas pakan sangat menentukan produksi dan reproduksi domba asal Sumatera Utara ini, walaupun secara genetik sudah memiliki berbagai keunggulan dibanding jenis domba lainnya. Volume pemberian pakan disesuaikan dengan periode umur domba. Semakin tua domba maka jumlah yang diberikan semakin banyak, di mana hijauan merupakan makanan utamanya dan biasanya diberikan pada siang dan sore hari.

Pada awal kelahiran sampai dengan usia 2-3 minggu, asupan gizi anak domba diperoleh dari susu induk. Setelah lebih dari umur tiga minggu, mulai diperkenalkan pakan hijauan muda secara seimbang agar mudah dicerna.

Setelah dilakukan penyapihan (umur di atas tiga bulan), pedet diberikan rumput segar sekitar 1-1,5 kg/ekor/hari, dengan dicampur dedaunan 0,5-1,0 kg/ekor/hari sehingga total hijauan 1,5-2,5 kg/ekor/hari atau 10% dari bobot tubuh domba.

Setelah memasuki masa dewasa (umur delapan bulan), diberikan pakan hijauan saja, tetapi tetap dikombinasikan dengan berbagai dedaunan. Contohnya rumput dicampur daun lamtoro dengan perbandingan 3:1 dan diberikan sebanyak 10% dari bobot tubuh.

Domba betina hamil (umur di atas 12 bulan) diberikan pakan berupa rumput 50% dan hijauan sumber protein 50% ( 1,5-2,0 kg/hari) plus dedak padi sebanyak 400-600 gr/hari. Cara pemberian pakan ini terus dipertahankan sampai induk melahirkan dan menyusui anaknya.

Untuk penyusunan pakan domba, peternak harus terlebih dulu mengetahui komposisi dari tiap bahan pakan.

Komposisi Nutrisi Berbagai Bahan Pakan Domba

Pemberian Konsentrat

Konsentrat adalah bahan pakan yang tinggi kandungan BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) dan rendah kandungan serat kasarnya (di bawah 18%), yang berfungsi sebagai bahan tambahan nutrisi pakan agar lebih lengkap, sehingga produktivitas domba tinggi.

Konsetrat terbuat dari kombinasi jagung giling, tepung kedelai, menir, dedak, bekatul, bungkil kelapa, tetes, umbi yang dicampur ikan, udang, kulit, darah dan bulu ayam (bisa diberikan maksimal 40% dari kandungan protein total ransum untuk dewasa dan 10% dari protein ransum untuk grower) dan ini mampu menaikkan bobot badan 134 gr/ekor/hari.

Perbandingan (proporsi) pemberian rumput, hijauan sumber protein/dedaunan dan konsentrat pada berbagai umur dan kondisi domba.

Perbadingan Campuran Pakan Domba Berdasarkan Umur

Program Vaksinasi

Untuk meminimalisir peluang munculnya serangan penyakit pada domba selain perlu dilakukan perawatan kebersihan kandang, peralatan dan tubuh domba sendiri (memandikan, gunting kuku dan pencukuran bulu), juga dianjurkan untuk divaksinasi setiap enam bulan sekali, dengan cara menyuntikan vaksin ke tubuh bagian belakang punggung domba. Vaksinasi mulai dilakukan sejak anak domba berumur satu bulan, yang diulangi kembali pada usia 2-3 bulan sekali. Jenis vaksin yang diberikan antara lain, spora, serum anti antraks, vaksin AE dan vaksin SE (Septichaemia Epizootica).

Program Vaksinasi pada Domba Waringin

Pemberian Jamu

Pertambahan bobot badan 2-3 kg/bulan sudah umum tercapai namun kenaikan tersebut masih dapat didongkrak menjadi 4-5 kg/bulan, yaitu dengan pemberian jamu dari campuran kunyit Curcuma domestica, temulawak Curcuma zanthorrhiza, daun sirih Annona muricata, kencur Kaempferia galanga dan jahe Zingiber officinale. Domba minumi jamu dua kali/hari dengan dosis 10 ml dalam 1 liter air minum. Dosis untuk domba dewasa 10 ml dan domba remaja 5 ml. Manfaat lain pemberian jamu mengurangi bau kotoran.

Cara pembuatan jamu:

  • Siapkan rimpang jahe, kunyit dan temulawak masing-masing 1 kg. Daun sirih beberapa lembar dan rimpang kencur.
  • Bahan-bahan diparut atau ditumbuk dan diperas hingga keluar sarinya. Air sari yang terkumpul diencerkan dalam 20 liter air.
  • Larutan itu ditambahkan tetes tebu/molase atau gula merah dan mikroorganisme.
  • Semua bahan diaduk dan dimasukkan ke dalam wadah. Kemudian mulut wadah disumbat/ditutup lalu simpan di tempat teduh.
  • Setiap minggu tutup wadah dibuka dan diaduk-aduk untuk mengeluarkan gas yang terbentuk dan agar larutan tercampur merata.
  • Setelah tiga minggu proses fermentasi (tercium bau tape), jamu siap diberikan kepada domba.

Demikian sekilas tentang ternak domba waringin yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ternak penghasil daging unggulan di Indonesia.

Tinggalkan komentar